Puasa di bulan Ramadhan, tujuannya sebagaimana dinyatakan di dalam al
Qur’an adalah jelas, yaitu agar orang yang menjalankannya meraih derajad
taqwa. Sebulan penuh, di bulan Ramadhan, orang beriman diwajibkan
berpuasa, yaitu meninggalkan makan minum, berhubungan suami isteri, dan
atau hal lainnya yang membatalkannya, sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.
Pada
saat berpuasa, kegiatan yang sehari-hari boleh dilakukan, maka
dilarang melakukannya. Sesuatu yang pada saat tidak berpuasa boleh
menikmatinya, tetapi pada saat berpuasa, sekalipun sesuatu dimaksud
tersedia, maka dilarang mengkonsumsi atau menikmatinya. Kenikmatan itu
supaya ditunda hingga saat diperbolehkannya.
Pada saat
berpuasa itu, keinginan yang menuntut segera dipenuhi, maka harus
ditunda terlebih dahulu. Kesediaan menunda kenikmatan itulah yang harus
dipenuhi oleh orang yang berpuasa. Mereka tidak makan, minum dan
berhubungan suami isteri di siang hari, bukan oleh karena tidak ada yang
dimakan dan juga yang diminum, atau tidak ada isteri atau suami,
melainkan oleh karena yang bersangkutan sedang berpuasa, maka semua
kenikmatan itu harus ditunda terlebih dahulu.
Keberhasilan
atau lulus dalam menunda kenikmatan dan segala hal yang membatalkan
puasa itu maka menjadikan seseorang memperoleh derajat yang mulia di
sisi Allah, yaitu taqwa. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal
penting yang seharusnya meniru hakekat puasa, agar seseorang meraih
sukses dalam kehidupannya. Orang yang ingin berhasil hidupnya, dalam
bidang apa saja, maka membutuhkan kemampuan menunda dulu kenikmatan yang
ingin segera diraih atau dirasakan.
Menunda kenikmatan itu,
sebagaimana puasa, ternyata akan memperoleh sukses di masa depan yang
lebih besar dan lebih banyak jumlahnya. Seorang mahasiswa misalnya, agar
cita-citanya berhasil, belajarnya sukses dan kelak menjadi orang yang
bermanfaat, maka harus berani dan mampu menunda dahulu berbagai
kesenangan atau kenikmatan yang sebenarnya bisa dinikmati segera.
Menurut penuturan orang tua atau orang yang arif dadulu, seseorang yang
ingin mendapatkan derajad tinggi dan mulia, maka harus berani hidup
prihatin.
Sedangkan yang dimaksud hidup prihatin itu adalah
adanya kesediaan mengurangi atau menahan dorongan hawa nafsu, misalnya
menghindar dari terlalu banyak makan, minum, dan tidur. Pada batas-batas
tertentu, nasehat tersebut ternyata terbukti kebenarannya. Para
mahasiswa yang mampu bertahan hidup sederhana, atau katakanlah
secukupnya, ternyata benar, pada umumnya di kemudian hari, usaha mereka
sukses. Sebaliknya, mahasiswa yang mengikuti hawa nafsu
berlebih-lebihan, hidup berpoya-poya tanpa batas, dan tanpa terkendali,
ternyata banyak yang gagal.
Demikian pula, pejabat
pemerintah, mereka yang mampu berpuasa, dalam pengertian selalu menahan
diri dari mengikuti hawa nafsu, tidak selalu mengambil sesuatu, dan
apalagi yang bukan haknya, umumnya akan selamat. Pejabat dimaksud akan
disenangi atau dicintai oleh bawahannya, sehingga sikapnya yang arif
itu akan menumbuhkan kreatifitas, etos atau semangat kerja orang-orang
yang dipimpinnya. Institusi atau birokrasi yang dipimpin akan selalu
mengalami kemajuan, bergerak dinamis, dan meraih prestasi yang
diinginkan. Hal itu disebabkan karena pejabat dimaksud berani melakukan
puasa, dalam arti meninggalkan sesuatu yang seharusnya bisa
dinikmatinya.
Makna hakekat puasa juga bisa dijadikan
pegangan oleh berbagai profesi apapun, tidak terkecuali sebagai
politikus, pedagang, pengusaha, petani, pelajar dan lain-lain. Sebagai
politikus, mereka akan benar-benar berjuang untuk rakyat. Mereka tidak
ingin mendapatkan fasilitas yang berlebihan, sekalipun hal itu misalnya
memungkinkan, tetapi justru sebaliknya, Apa yang diperoleh,
sebagiannya diperiuntukkan bagi siapa saja yang masih mengalami
kekurangan. Maka artinya, politikus dimaksud berani berpuasa atau
menunda kenikmatan yang seharusnya dirasakan, demi sukses kariernya di
masa depan.
Tidak terkecuali adalah para petani juga
melakukan hal tersebut. Pada saat tanamannya memerlukan perawatan, maka
mereka berani berpuasa dulu. Uang yang dimiliki bukan digunakan untuk
bersenang-senang, misalnya sehari-hari berpesta, pergi ke warung, dan
seterusnya, melainkan berpuasa terlebih dadulu. Sementara, uangnya
digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanamannya, misalnya untuk membeli
pupuk, obat-obatan, upah buruh, dan lain-lain, agar tanamannya subur,
terhindar dari penyakit, supaya kelak menghasilkan panen yang melimpah.
Berpuasa
memang memiliki makna strategis untuk meraih sukses dalam usaha apa
saja di masa depan. Orang yang kebetulan menjadi pejabat, dan tidak
mampu menangkap dan mengambil pesan hakekat puasa, ———dan apalagi
melakukan penyimpangan, korupsi misalnya, maka akan gagal dan
diberhentikan dari jabatannya itu. Demikian pula, seorang pengusaha,
oleh karena tidak mampu menangkap pesan puasa, hingga modalnya justru
digunakan untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu atau kenikmatan hari ini,
maka usahanya bangkrut atau gulung tikar. Tidak berbeda dengan pejabat
dan juga pengusaha, adalah mahasiswa oleh karena tidak mampu
mengendalikan diri, atau tidak mampu menangkap pesan haketat puasa, maka
juga mengalami kegagalan.
Akhirnya, hakekat berpuasa
sebenarnya adalah mengingatkan kepada siapa saja yang ingin meraih
sukses hidupnya, maka harus mampu menunda kenikmatan atau kesenangannya.
Pesan atau nasehat kebanyakan orang tua dahulu, bahwa sukses atau
keberhasilan hanya akan diraih oleh orang yang mampu hidup prihatin,
ternyata benar. Maka, siapapun yang menghendaki hidupnya sukses,
ternyata kuncinya adalah adanya kesediaan menangkap makna hakekat
berpuasa dan mengimplementasikannya. Wallahu a’lam
No comments:
Post a Comment