Suatu ketika saya ketemu dengan seorang guru yang sehari-hari mengajar
ilmu fisika. Guru fisika ini beragama Islam, dan tergolong taat. Dia
bisa membaca al Qur’an sekalipun belum memahami artinya secara
sempurna. Jika ingin mengetahui arti ayat-ayat al Qur’an, dia bisa
mencari melalui kitab al Qur’an terjemahan, yang sekarang ini bisa
diperoleh dengan mudah.
Sebagai pengajar mata pelajaran ilmu fisika, ia tidak merasa dekat dengan ilmu agama dan juga al Qur’an. Selama ini, guru fisika ini berpikir bahwa fisika adalah ilmu umum dan berbeda dengan ilmu agama. Antara ilmu fisika dan agama tidak ada kaitannya. Ilmu fisika dianggap penting sebagai bekal menjalani kehidupan di dunia, sementara itu ilmu agama adalah bekal untuk meraih kebahagiaan di akherat kelak.
Anggapan bahwa tidak ada kaitan antara ilmu agama dan ilmu fisika seperti itu sudah lama, yakni sejak dia belajar di sekolah baik ketika memulai mengenal ilmu agama maupun ilmu fisika. Selama ini, masing-masing guru tidak ada yang menjelaskan keterkaitan di antara keduanya. Guru fisika tidak menjelaskan kaitan antara fisika dengan ilmu agama dan demikian pula guru agama selama ini juga tidak menjelaskan bahwa ada kaitan antara agama dan fisika.
Pemahaman sebagaimana tersebut ternyata tidak dimilikinya sendiri. Teman-temannya, baik sesama guru fisika maupun juga guru agama, pemahamannya tentang Qur’an dan sains selama ini tidak jauh beda. Mereka tidak pernah berpikir bahwa di antara keduanya ada kaitan. Selama ini mereka menganggap bahwa Ilmu fisika tidak ada kaitannya dengan agama. Agama sumbernya al Qur’an, sementara ilmu fisika berasal dari hasil observasi, eksperimentasi, dan penalaran logis dan mendalam.
Dalam pertemuan dimaksud saya mencoba mengemukakan pandangan tentang hubungan di antara kedua jenis pelajaran itu. Saya menjelaskan bahwa benar, sumber ajaran Islam adalah al Qur’an dan hadits nabi. Namun saya katakan bahwa al Qur’an sebenarnya berbicara berbagai hal terkait dengan kehidupan dan bahkan juga tentang jagad raya ini. Itulah sebabnya, al Qur’an itu disebut bersifat universal dan dari kitab suci itu dapat digali berbagai sumber ilmu pengetahuan, termasuk di antaranya adalah terkait ilmu fisika itu.
Memang al Qur’an tidak berbicara ilmu fisika secara detail. Al Qur’an juga bukan kumpulan sains, yaitu meliputi biologi, kimia, fisika, kimia, sosiologi, psikologi, dan lain-lain. Akan tetapi al Qur’an mendorong umat manusia mempelajari jagad raya ini. Al Qur’an mendorong umat manusia mempelajari ciptaan Allah, baik yang ada di langit maupun di bumi. Perintah mempelajari sains atau ciptaan Allah dimaksud adalah amat jelas dikemukakan melalui ayat-ayat al Qur’an.
Di dalam al Qur’an dan hadits nabi, manusia tidak diperintah mempelajari Dzat Tuhan, tetapi ternyata justru dilarang. Manusia hanya diperintah mempelajari ciptaan-Nya. Perintah itu dijelaskan dengan kalimat yang amat jelas, yaitu pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan memikirkan tentang Allah. Upaya memikirkan ciptaan Allah, yaitu berupa langit dan bumi serta seisinya, dalam konteks sekarang, adalah mempelajari sains, yaitu ilmu fisika, kimia, biologoi, sosiologi, sejarah, filsafat, dan lain-lain.
Demikian pula di dalam al Qur’an terdapat konsep manusia ideal, yaitu ulul al baab. Dijelaskan di kalam kitab suci itu pula bahwa, seorang yang menyandang identitas ulul al baab adalah orang yang selalu ingat Allah pada sepanjang waktu. Ciri berikutnya adalah selalu merenungkan dan memikirkan penciptaan langit dan bumi. Bahkan ayat itu dilanjutnya dengan ungkapan : “ rabbana ma khalaqta hadza bathila”.
Sebagaimana dikemukakan di muka, bahwa sebenarnya orang yang sehari-hari mengkaji ilmu fiisika, biologi, kimia, sosilogi, psikologi, dan lainnya itu adalah merupakan upaya memahami ciptaaan Allah. Dan ternyata, al Qur’an memerintahkan yang demikian itu. Demikian pula pernyataan al Qur’an bahwa semua yang diciptakan Allah adalah tidak ada yang sia-sia. Pernyataan itu, akan menjadi terbukti setelah ciptaan itu diolah melalui proses, yaitu teknologi.
Akhirnya, atas pandangan dan pemahaman tersebut, saya mengemukakan bahwa sebenarnya apa yang dilakukan oleh guru fisika, guru kimia, guru biologi, sosiologi, psikologoi dan lain-lain adalah merupakan implementasi perintah al Qur’an. Tatkala al Qur’an dan hadits nabi memerintahkan manusia agar merenungkan dan memikirkan ciptaan Allah, yaitu berupa jagad raya ini, dan kemudian para ilmuwan menjalankannya, maka perintah itu artinya telah dilaksanakannya. Sayangnya, ketika mereka menjalankannya, tidak disadari bahwasanya hal itu adalah merupakan perintah al Qur’an. Sehingga, tidak diketahui bahwa antara keduanya ada hubungan yang sedemikian dekat.
Bahkan, kegiatan mempelajari sains dalam Islam bukan sekedar berhenti agar yang bersangkutan mengetahui ilmu yang dipelajari itu sendiri, atau juga kemudian mengambil manfaat dari hasil pengetahuan yang dihasilkannya itu, lewat teknologi misalnya, melainkan masih memiliki tujuan yang lebih mendasar. Tujuan yang dimaksudkan itu adalah untuk mengenal Tuhan melalui ciptaan-Nya. Oleh karena itu, dalam hal ini, mengkaji ilmu bukan sebatas berhenti pada ilmu atau sains, tetapi lebih jauh, kegiatan itu adalah untuk mengenal Allah. Manakala orientasi seperti itu yang terjadi, maka apa yang disebut di dalam al Qur’an bahwa “Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajad” akans menemukan relevansinya yang amat sjelas.
Berangkat dari penjelasan sederhana itu, maka guru ilmu fisika dimaksud menjadi tahu, bahwa sebenarnya apa yang dilakukan selama ini adalah sebagai bagian dari melaksanakan perintah al Qur’an. Kitab suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad mendorong agar umatnya mempelajari ilmu seluas-luasnya adalah tidak terbatas pada jenis ilmu sebagaimana yang dipahami selama ini. Dengan demikian, para guru sains seharusnya tidak merasa jauh dengan al Qur’an. Apa yang sehari-hari mereka lakukan pada hakekatnya adalah memenuhi perintah kitab suci dan sebagai bagian dari ibadah. Dengan demikian, agama dan sains akan dilihat tidak secara secara terpisah, tetapi secara padu dan utuh. Wallahu a’lam.
Sebagai pengajar mata pelajaran ilmu fisika, ia tidak merasa dekat dengan ilmu agama dan juga al Qur’an. Selama ini, guru fisika ini berpikir bahwa fisika adalah ilmu umum dan berbeda dengan ilmu agama. Antara ilmu fisika dan agama tidak ada kaitannya. Ilmu fisika dianggap penting sebagai bekal menjalani kehidupan di dunia, sementara itu ilmu agama adalah bekal untuk meraih kebahagiaan di akherat kelak.
Anggapan bahwa tidak ada kaitan antara ilmu agama dan ilmu fisika seperti itu sudah lama, yakni sejak dia belajar di sekolah baik ketika memulai mengenal ilmu agama maupun ilmu fisika. Selama ini, masing-masing guru tidak ada yang menjelaskan keterkaitan di antara keduanya. Guru fisika tidak menjelaskan kaitan antara fisika dengan ilmu agama dan demikian pula guru agama selama ini juga tidak menjelaskan bahwa ada kaitan antara agama dan fisika.
Pemahaman sebagaimana tersebut ternyata tidak dimilikinya sendiri. Teman-temannya, baik sesama guru fisika maupun juga guru agama, pemahamannya tentang Qur’an dan sains selama ini tidak jauh beda. Mereka tidak pernah berpikir bahwa di antara keduanya ada kaitan. Selama ini mereka menganggap bahwa Ilmu fisika tidak ada kaitannya dengan agama. Agama sumbernya al Qur’an, sementara ilmu fisika berasal dari hasil observasi, eksperimentasi, dan penalaran logis dan mendalam.
Dalam pertemuan dimaksud saya mencoba mengemukakan pandangan tentang hubungan di antara kedua jenis pelajaran itu. Saya menjelaskan bahwa benar, sumber ajaran Islam adalah al Qur’an dan hadits nabi. Namun saya katakan bahwa al Qur’an sebenarnya berbicara berbagai hal terkait dengan kehidupan dan bahkan juga tentang jagad raya ini. Itulah sebabnya, al Qur’an itu disebut bersifat universal dan dari kitab suci itu dapat digali berbagai sumber ilmu pengetahuan, termasuk di antaranya adalah terkait ilmu fisika itu.
Memang al Qur’an tidak berbicara ilmu fisika secara detail. Al Qur’an juga bukan kumpulan sains, yaitu meliputi biologi, kimia, fisika, kimia, sosiologi, psikologi, dan lain-lain. Akan tetapi al Qur’an mendorong umat manusia mempelajari jagad raya ini. Al Qur’an mendorong umat manusia mempelajari ciptaan Allah, baik yang ada di langit maupun di bumi. Perintah mempelajari sains atau ciptaan Allah dimaksud adalah amat jelas dikemukakan melalui ayat-ayat al Qur’an.
Di dalam al Qur’an dan hadits nabi, manusia tidak diperintah mempelajari Dzat Tuhan, tetapi ternyata justru dilarang. Manusia hanya diperintah mempelajari ciptaan-Nya. Perintah itu dijelaskan dengan kalimat yang amat jelas, yaitu pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan memikirkan tentang Allah. Upaya memikirkan ciptaan Allah, yaitu berupa langit dan bumi serta seisinya, dalam konteks sekarang, adalah mempelajari sains, yaitu ilmu fisika, kimia, biologoi, sosiologi, sejarah, filsafat, dan lain-lain.
Demikian pula di dalam al Qur’an terdapat konsep manusia ideal, yaitu ulul al baab. Dijelaskan di kalam kitab suci itu pula bahwa, seorang yang menyandang identitas ulul al baab adalah orang yang selalu ingat Allah pada sepanjang waktu. Ciri berikutnya adalah selalu merenungkan dan memikirkan penciptaan langit dan bumi. Bahkan ayat itu dilanjutnya dengan ungkapan : “ rabbana ma khalaqta hadza bathila”.
Sebagaimana dikemukakan di muka, bahwa sebenarnya orang yang sehari-hari mengkaji ilmu fiisika, biologi, kimia, sosilogi, psikologi, dan lainnya itu adalah merupakan upaya memahami ciptaaan Allah. Dan ternyata, al Qur’an memerintahkan yang demikian itu. Demikian pula pernyataan al Qur’an bahwa semua yang diciptakan Allah adalah tidak ada yang sia-sia. Pernyataan itu, akan menjadi terbukti setelah ciptaan itu diolah melalui proses, yaitu teknologi.
Akhirnya, atas pandangan dan pemahaman tersebut, saya mengemukakan bahwa sebenarnya apa yang dilakukan oleh guru fisika, guru kimia, guru biologi, sosiologi, psikologoi dan lain-lain adalah merupakan implementasi perintah al Qur’an. Tatkala al Qur’an dan hadits nabi memerintahkan manusia agar merenungkan dan memikirkan ciptaan Allah, yaitu berupa jagad raya ini, dan kemudian para ilmuwan menjalankannya, maka perintah itu artinya telah dilaksanakannya. Sayangnya, ketika mereka menjalankannya, tidak disadari bahwasanya hal itu adalah merupakan perintah al Qur’an. Sehingga, tidak diketahui bahwa antara keduanya ada hubungan yang sedemikian dekat.
Bahkan, kegiatan mempelajari sains dalam Islam bukan sekedar berhenti agar yang bersangkutan mengetahui ilmu yang dipelajari itu sendiri, atau juga kemudian mengambil manfaat dari hasil pengetahuan yang dihasilkannya itu, lewat teknologi misalnya, melainkan masih memiliki tujuan yang lebih mendasar. Tujuan yang dimaksudkan itu adalah untuk mengenal Tuhan melalui ciptaan-Nya. Oleh karena itu, dalam hal ini, mengkaji ilmu bukan sebatas berhenti pada ilmu atau sains, tetapi lebih jauh, kegiatan itu adalah untuk mengenal Allah. Manakala orientasi seperti itu yang terjadi, maka apa yang disebut di dalam al Qur’an bahwa “Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajad” akans menemukan relevansinya yang amat sjelas.
Berangkat dari penjelasan sederhana itu, maka guru ilmu fisika dimaksud menjadi tahu, bahwa sebenarnya apa yang dilakukan selama ini adalah sebagai bagian dari melaksanakan perintah al Qur’an. Kitab suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad mendorong agar umatnya mempelajari ilmu seluas-luasnya adalah tidak terbatas pada jenis ilmu sebagaimana yang dipahami selama ini. Dengan demikian, para guru sains seharusnya tidak merasa jauh dengan al Qur’an. Apa yang sehari-hari mereka lakukan pada hakekatnya adalah memenuhi perintah kitab suci dan sebagai bagian dari ibadah. Dengan demikian, agama dan sains akan dilihat tidak secara secara terpisah, tetapi secara padu dan utuh. Wallahu a’lam.