Siapapun pernah melihat kucing, bahkan di rumahnya sendiri mungkin juga
dipelihara binatang itu. Tetapi apakah semua orang telah memahami betul
perilaku binatang yang biasa disayangi oleh anak-anak kecil. Tentu
tidak selalu. Tidak semua orang memiliki perhatian secara serius tentang
banyak hal. Sekalipun, hal yang dimaksud itu selalu dekat dengan dirinya, termasuk kucing itu.
Tuhan
sedemikian kasih sayang kepada makhluk-Nya., tidak terkecuali kepada
manusia. Agar anak cucu Adam itu menjadi selamat hidupnya, maka diajari
melalui contoh kehidupan yang sedemikian banyak jumlahnya. Contoh yang
dimaksud itu kadang sederhana, yakni berupa perilaku berbagai jenis
binatang. Mengajari lewat contoh sederhana itu, Tuhan menyatakan tidak
malu, bahkan hingga nyamuk pun dijadikan contoh.
Akan
tetapi, oleh karena manusia memiliki sifat kurang peduli, contoh itu
tidak diperhatikan. Akibat tidak mau belajar atau tidak mau mengambil
contoh itu, manusia banyak yang mengalami kesalahan dan bahkan tersesat.
Memiliki kucing di rumah, tetapi perilaku kucing itu juga tidak pernah
dipelajari. Dikiranya binatang itu tidak memberi pelajaran apa-apa.
Padahal dari perilaku kucing itu, siapapun akan memperoleh pelajaran
yang amat berharga.
Di antara perilaku kucing yang menarik
adalah tentang kemandiriannya. Kucing selalu mencari mangsanya sendiri.
Dan anehnya, kucing tidak pernah mau berebut, dan apalagi berebut apa
yang dimiliki oleh seniornya. Apa saja yang sudah dikuasai kucing yang
sudah tua, maka tidak akan direbut oleh kucing yang masih muda.
Rupanya, kucing pun memiliki tata krama yang tidak dengan mudah
dilanggarnya.
Tatkala mau menangkap tikus, kucing memiliki
strategi yang jitu. Hanya dengan gerak matanya, binatang itu bekerja,
hingga tikus tidak bisa mengenali bahwa di temat itu ada kucing. Tatkala
tikus yang dibidik lalai atau tidak waspada, maka seketika itu dengan
cepat kilat, kucing menerkamnya. Segeralah nyawa tikus itu dihabisi.
Rupanya kucing tidak mau menjadikan mangsanya menderita berlama-lama,
hanya sekedar menunggu kematian. Tampak bahwa kucing, dalam hal ini,
lebih manusiawi.
Kucing mengerti bahwa sehari-hari, ia
memerlukan makanan. Mungkin juga tahu bahwa makanan itu jumlahnya
terbatas. Akan tetapi ternyata tidak ada kucing yang bersifat tamak atau
bersikap aji mumpung. Tatkala suatu saat misalnya, terdapat makanan
melimpah, ternyata binatang itu juga tidak mau menyimpan
sebanyak-banyaknya agar bisa dikonsumsi pada waktu mendatang. Kucing
ternyata tidak memiliki kesukaan menumpuk harta, sehingga jika apa yang
dimakan tersisa, maka dipersilahkan yang lain menghabiskannya.
Sudah
barang tentu, masih banyak lagi perilaku kucing yang tidak mungkin
ditulis di halaman ini, oleh karena tempatnya terbatas. Namun sebagai
tambahan, masih ada sedikit gambaran tentang perilaku kucing yang
agaknya lucu dan menarik, ialah terkait dengan seks. Kucing dalam
menjalankan seks, ternyata tidak sembarang waktu, dan hal itu sangat
berbeda dengan kambing. Kambing jantan memiliki naluri seks tidak
terbatas, di mana dan kapan saja, bisa melakukannya.
Dalam
kegiatan seks, kucing hanya melakukannya pada waktu-waktu tertentu.
Kalau tidak salah, dalam satu tahun, masa birahi itu hanya berlangsung
dua kali, dan biasanya juga tidak berlangsung lama, sekitar sebulan.
Pada umumnya, ketika kucing sedang birahi, sangat mudah dikenali, oleh
karena tidak sebagaimana biasanya, binatang yang banyak disayang anak
kecil itu, suaranya amat keras.
Selain itu, tatkala
sedang lapar, kucing masing bisa diganggu. Akan tetapi pada masa birahi,
binatang itu sama sekali tidak mau toleransi. Siapapun yang mengganggu
akan dilawan. Rupanya bagi kucing, pemenuhan seks itu merupakan
kebutuhan dasar yang tidak boleh siapapun mengganggunya. Menyangkut
pemenuhan kebutuhan dasar, kiranya bukan saja kucing, manusia pun juga
demikian. Manakala kebutuhan dasar untuk melangsungkan kehidupannya
terganggu, dan tidak ada alternaif lain, maka siapapun yang mengganggu
itu akan dilawan.
Belajar dari perilaku kucing itu, kiranya
tidak terlalu sulit memahami kasus yang baru saja terjadi di kota
Malang yaitu perlawanan PKL terhadap Satpol PP. Mengambil tempat untuk
berjualan seenaknya itu sebenarnya telah disadari adalah mengganggu
ketertiban. Akan tetapi hal itu terpaksa dilakukan sebagai
satu-satunya alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, ialah
mendapatkan rizki untuk menyambung hidup. Sementara itu alternatif lain
belum ditemukan. Umpama saja PKL itu memiliki alternatif lain,
———bantuan pemerintah kota misalnya, maka melawan Satpol PP yang
sedemikian besar resikonya, tidak akan dilakukan.
Maka,
cara terbaik untuk menghindar dari konflik sebagaimana dimaksud di muka,
adalah belajar dari kehidupan kucing. Siapapun tatkala sedang kepepet
untuk mempertahankan hidup, maka jangan diganggu. Mereka akan melawan.
Tunggulah sementara waktu, mereka diajak berdialog untuk menyelasaikan
persoalannya. Tidak perlu terlalu mengambil resiko hingga menjadikan d
antara Satpol PP bentrok dengan PKL. Sekarang ini, kehidupan sehari-hari
semakin berat, maka siapapun harus bersikap arif, agar orang yang
mengalami kesulitan, tidak bertambah berat lagi. Suasana tertib memang
sangat penting dipelihara, tetapi keberlangungan hidup juga harus
diupayakan. Maka, kearifan adalah solusinya. Wallahu a’lam.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment