Powered by Blogger.

Belajar Dari Perilaku Kucing

Wednesday, July 8, 2015

Siapapun pernah melihat kucing, bahkan di rumahnya sendiri mungkin juga dipelihara binatang itu. Tetapi apakah semua orang telah memahami betul perilaku binatang yang biasa disayangi oleh anak-anak kecil. Tentu tidak selalu. Tidak semua orang memiliki perhatian secara serius tentang banyak hal. Sekalipun, hal yang dimaksud itu selalu dekat dengan dirinya, termasuk kucing itu.


Tuhan sedemikian kasih sayang kepada makhluk-Nya., tidak terkecuali kepada manusia. Agar anak cucu Adam itu menjadi selamat hidupnya, maka diajari melalui contoh kehidupan yang sedemikian banyak jumlahnya. Contoh yang dimaksud itu kadang sederhana, yakni berupa perilaku berbagai jenis binatang. Mengajari lewat contoh sederhana itu, Tuhan menyatakan tidak malu, bahkan hingga nyamuk pun dijadikan contoh.


Akan tetapi, oleh karena manusia memiliki sifat kurang peduli, contoh itu tidak diperhatikan. Akibat tidak mau belajar atau tidak mau mengambil contoh itu, manusia banyak yang mengalami kesalahan dan bahkan tersesat. Memiliki kucing di rumah, tetapi perilaku kucing itu juga tidak pernah dipelajari. Dikiranya binatang itu tidak memberi pelajaran apa-apa. Padahal dari perilaku kucing itu, siapapun akan memperoleh pelajaran yang amat berharga.


Di antara perilaku kucing yang menarik adalah tentang kemandiriannya. Kucing selalu mencari mangsanya sendiri. Dan anehnya, kucing tidak pernah mau berebut, dan apalagi berebut apa yang dimiliki oleh seniornya. Apa saja yang sudah dikuasai kucing yang sudah tua, maka tidak akan direbut oleh kucing yang masih muda. Rupanya, kucing pun memiliki tata krama yang tidak dengan mudah dilanggarnya.


Tatkala mau menangkap tikus, kucing memiliki strategi yang jitu. Hanya dengan gerak matanya, binatang itu bekerja, hingga tikus tidak bisa mengenali bahwa di temat itu ada kucing. Tatkala tikus yang dibidik lalai atau tidak waspada, maka seketika itu dengan cepat kilat, kucing menerkamnya. Segeralah nyawa tikus itu dihabisi. Rupanya kucing tidak mau menjadikan mangsanya menderita berlama-lama, hanya sekedar menunggu kematian. Tampak bahwa kucing, dalam hal ini, lebih manusiawi.


Kucing mengerti bahwa sehari-hari, ia memerlukan makanan. Mungkin juga tahu bahwa makanan itu jumlahnya terbatas. Akan tetapi ternyata tidak ada kucing yang bersifat tamak atau bersikap aji mumpung. Tatkala suatu saat misalnya, terdapat makanan melimpah, ternyata binatang itu juga tidak mau menyimpan sebanyak-banyaknya agar bisa dikonsumsi pada waktu mendatang. Kucing ternyata tidak memiliki kesukaan menumpuk harta, sehingga jika apa yang dimakan tersisa, maka dipersilahkan yang lain menghabiskannya.


Sudah barang tentu, masih banyak lagi perilaku kucing yang tidak mungkin ditulis di halaman ini, oleh karena tempatnya terbatas. Namun sebagai tambahan, masih ada sedikit gambaran tentang perilaku kucing yang agaknya lucu dan menarik, ialah terkait dengan seks. Kucing dalam menjalankan seks, ternyata tidak sembarang waktu, dan hal itu sangat berbeda dengan kambing. Kambing jantan memiliki naluri seks tidak terbatas, di mana dan kapan saja, bisa melakukannya.


Dalam kegiatan seks, kucing hanya melakukannya pada waktu-waktu tertentu. Kalau tidak salah, dalam satu tahun, masa birahi itu hanya berlangsung dua kali, dan biasanya juga tidak berlangsung lama, sekitar sebulan. Pada umumnya, ketika kucing sedang birahi, sangat mudah dikenali, oleh karena tidak sebagaimana biasanya, binatang yang banyak disayang anak kecil itu, suaranya amat keras.  


Selain itu, tatkala sedang lapar, kucing masing bisa diganggu. Akan tetapi pada masa birahi, binatang itu sama sekali tidak mau toleransi. Siapapun yang mengganggu akan dilawan. Rupanya bagi kucing, pemenuhan seks itu merupakan kebutuhan dasar yang tidak boleh siapapun mengganggunya. Menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar, kiranya bukan saja kucing, manusia pun juga demikian. Manakala kebutuhan dasar untuk melangsungkan kehidupannya terganggu, dan tidak ada alternaif lain, maka siapapun yang mengganggu itu akan dilawan.


Belajar dari perilaku kucing itu, kiranya tidak terlalu sulit memahami kasus yang baru saja terjadi di kota Malang yaitu perlawanan PKL terhadap Satpol PP. Mengambil tempat untuk berjualan seenaknya itu sebenarnya telah disadari adalah mengganggu ketertiban. Akan tetapi hal itu terpaksa dilakukan sebagai satu-satunya alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, ialah mendapatkan rizki untuk menyambung hidup. Sementara itu alternatif lain belum ditemukan. Umpama saja PKL itu memiliki alternatif lain, ———bantuan pemerintah kota misalnya, maka melawan Satpol PP yang sedemikian besar resikonya, tidak akan dilakukan.


Maka, cara terbaik untuk menghindar dari konflik sebagaimana dimaksud di muka, adalah belajar dari kehidupan kucing. Siapapun tatkala sedang kepepet untuk mempertahankan hidup, maka jangan diganggu. Mereka akan melawan. Tunggulah sementara waktu, mereka diajak berdialog untuk menyelasaikan persoalannya. Tidak perlu terlalu mengambil resiko hingga menjadikan d antara Satpol PP bentrok dengan PKL. Sekarang ini, kehidupan sehari-hari semakin berat, maka siapapun harus bersikap arif, agar orang yang mengalami kesulitan, tidak bertambah berat lagi. Suasana tertib memang sangat penting dipelihara, tetapi keberlangungan hidup juga harus diupayakan. Maka, kearifan adalah solusinya. Wallahu a’lam.  

No comments: